top of page
newspaper.png

Tensions Rise in Nagorno-Karabakh, Armenia and Azerbaijan Sends Troops Along Border

  • Sergie Amir
  • Sep 12, 2023
  • 5 min read

English and Indonesian translation


Jakarta, Indonesia - Armenia has stated that Azerbaijani Armed Forces have been detected performing troop movements, increasing the number of troops and causing the Prime Minister of Armenia to voice out his concerns regarding the possibility of a future conflict.


"The reason is that Azerbaijan has been accumulating troops on the line of contact in Nagorno-Karabakh and along the Armenian-Azerbaijani border for several days," Prime Minister Nikol Pashinyan said to Armenian News Agency ARKANEWS. (07/09/23)


"On September 1, Azerbaijani armed forces launched another provocation against Armenia's sovereign territory in the Sotk village, as a result of which three Armenian servicemen were killed. This provocation was preceded and followed by the dissemination of disinformation by Azerbaijan about the violation of the ceasefire by the Armenian armed forces," Continued Pashinyan.


"It is obvious that by these actions Azerbaijan demonstrates its aspirations for new military provocations against Armenia and Nagorno-Karabakh. To justify this provocation, false theses have been put into circulation," Continued Pashinyan.


However, Azerbaijan has denied these accusations, with the foreign policy advisor of President Ilham Aliyev, Hikmat Hajiyev, turning the tables and accusing Armenia of conducting military provocations in the border while claiming the troop movements his nation has conducted was merely part of a regular training.


According to Reuters, Himayev claimed that pro-Armenian forces in Nagorno-Karabakh have exited their barracks and began setting up front-line positions along the Azerbaijani border.


Nagorno-Karabakh is a territory that has been disputed between Azerbaijan and Armenia ever since the independence of these two states after the dissolution of the Soviet Union in 1991. This is due to the fact that Nagorno-Karabakh has been internationally recognized as Azerbaijani territory despite a large Armenian population enclave existing. This has resulted in the Armenians residing in the territory to gain de-facto independence, declaring the “Artsakh Republic.” This separatist republic has achieved political and material support from the government of Armenia.


In 2020, Azerbaijani troops directly attacked the Artsakh Republic and a fierce battle ensued between Armenia and Azerbaijan. This conflict ended in a ceasefire, but Azerbaijan managed to seize portions of territories in Nagorno-Karabakh previously controlled by Artsakh. However, the Republic of Artsakh still controls a significant amount of territory in Nagorno-Karabakh.


Anticipating a potential conflict with Azerbaijan, Armenia has attempted to forge stronger ties with foreign powers such as the United States. Just last week, Armenia conducted a joint military training with the United States Armed Forces. This is a sign that Armenia is in the process of increasing the quality of its armed forces while also strengthening ties with a diverse array of countries.


Geopolitically, the training exercise with the United States is quite interesting, because it means that Armenia could possibly go through the process of decreasing military dependence on the Russian Federation. Ever since the formation of the Collective Security Treaty Organisation, Armenia has been a member which technically means that it has the right to call on CSTO allies to assist it in times of war.


However, in the Nagorno-Karabakh War of 2020, Russia did not militarily intervene to aid Armenia directly, instead serving as a mediator between Armenia and Azerbaijan. On the other hand, the Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) of Iran has published a video which included a threat to Azerbaijan (According to X account @AamRaadPSF). In this video, Iran gave a warning to Azerbaijan that any military conflict against Armenia would involve the nation of Iran, and that Iran would respond to this conflict by sending ICBMs to destroy the military power of Azerbaijan. Although this is likely an exaggeration, this does confirm that Iran is still more sympathetic to Armenia than Azerbaijan in the conduct of its foreign policy.


Interestingly, Prime Minister Nikol Pishonyan of Armenia has also engaged in a phone call with the President of Turkiye, a nation that has supported Azerbaijani efforts in the past. This may signal a shifting in the sands of the geopolitics of the region, and could mean that Azerbaijani allies are now committed to peace in the Caucasus. This would disadvantage Azerbaijan on the diplomatic front should it choose to attack first.


Should a conflict occur, there is a big chance that Armenia would be less willing to give territorial concessions to the Artsakh Republic to Azerbaijan, especially because Artsakh territory has already been ceded in the war of 2020.


Of course, we all should hope that the recent military tensions will end in an amicable peace between Armenia and Azerbaijan.


--


Jakarta, Indonesia - Di wilayah Nagorno-Karabakh, Armenia telah menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata Azerbaijan terdeteksi memulai gerakan-gerakan militer, meningkatkan jumlah pasukan dan menyebabkan Perdana Menteri Armenia untuk menyuarakan keprihatinan kepada kemungkinan terjadinya lagi konflik militer antara Azerbaijan dan Armenia untuk mempertarungkan kedaulatan wilayah Nagorno-Karabakh.


“Alasannya adalah Azerbaijan telah mengumpulkan pasukan di garis kontak Nagorno-Karabakh dan sekitar perbatasan Armenia-Azerbaijan dalam beberapa hari ini,” Ujar Perdana Menteri Nikol Pashinyan kepada kantor berita asal Armenia ARKANEWS. (07/09/23)


“Pada September 1, angkatan bersenjata Azerbaijan melakukan provokasi provokasi (lagi) melawan wilayah berdaulat Armenia di desa Sotk, yang menyebabkan kematian tiga pasukan Armenia. Provokasi ini didahului dan diikuti oleh diseminasi disinformasi oleh Azerbaijan tentang pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Armenia.” Lanjut Pashinyan.


“Sangat jelas dari tindakan-tindakan ini bahwa Azerbaijan sedang mendemonstrasikan aspirasi untuk melakukan provokasi militer yang baru melawan Armenia dalam wilayah Nagorno-Karabakh. Untuk membenarkan provokasi ini, tesis-tesis palsu telah disirkulasikan (Oleh pihak Azerbaijan).” Lanjut Pashinyan, secara jelas membuat klaim bahwa Azerbaijan sedang preparasi untuk konflik militer.


Namun, pihak Azerbaijan telah membantah akusasi ini, dengan penasihat kebijakan luar negeri Presiden Ilham Aliyev yang bernama Hikmet Hajiyev justru menuduh bahwa pihak Armenia telah melakukan provokasi di perbatasan dan “gerakan-gerakan militer” yang telah dijalankan hanya sekedar latihan.


“Ini adalah bagian dari proses perencanaan yang biasa terjadi,” ujar Hajiyev kepada kantor berita Reuters. (08/09/23)


Dilansir dari kantor berita Reuters juga, Himayev membuat klaim bahwa pasukan-pasukan pro-Armenia di wilayah Nagorno-Karabakh telah keluar dari markasnya dan telah mulai dikirim ke posisi-posisi garis depan.


“Strategi kita adalah pencegahan aksi militer ilegal atau provokasi dalam bentuk apapun melawan Azerbaijan” lanjut Hajiyev.


Nagorno-Karabakh adalah wilayah yang status kepemilikannya telah dipertarungkan Azerbaijan dan Armenia sejak kemerdekaan dua negara ini dari kekuasaan Uni Soviet dalam akhir tahun 1991. Sebab, wilayah Nagorno-Karabakh telah mendapat pengakuan internasional sebagai bagian dari negara Azerbaijan, namun wilayah ini juga merupakan daerah kantong kelompok Armenia yang secara efektif telah merebut kemerdekaan mereka dan mendeklarasikan ‘Republik Artsakh”. Republik separatis ini juga didukung secara politik dan materil oleh pemerintah Armenia.


Dalam tahun 2020, pasukan Azerbaijan secara langsung menyerang Republik Artsakh dan menyebabkan pertarungan sengit antara Armenia dan Azerbaijan. Konflik ini berakhir dalam perjanjian gencatan senjata, tapi Azerbaijan berhasil mendapatkan sebagian wilayah Nagorno-Karabakh dari Republik Artsakh. Namun, Republik Artsakh masih mengendalikan sebagian wilayah Nagorno-Karabakh.


Mengantisipasi konflik dengan Azerbaijan yang mungkin datang, Armenia telah menjalin hubungan yang lebih dekat dengan kekuatan-kekuatan luar seperti Amerika Serikat. Minggu lalu, Armenia melakukan latihan militer bersama dengan angkatan bersenjata Amerika. Ini merupakan tanda bahwa Armenia sedang menjalankan proses meningkatkan kualitas angkatan bersenjata sekaligus mengeratkan hubungan dengan negara-negara yang berbeda.


Secara geopolitik, latihan militer dengan Amerika Serikat juga hal yang menarik, karena berarti bahwa Armenia kemungkinan memulai proses untuk mengurangi ketergantungan militer kepada Federasi Rusia. Sejak formasi persekutuan militer Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO), Armenia menjadi anggota yang berarti secara teknis memiliki hak untuk memanggil negara-negara lain untuk membantunya dalam situasi perang.


Namun, dalam perang Nagorno-Karabakh 2020, Rusia tidak secara militer membantu Armenia dengan langsung, lebih berperan sebagai pendamai antara dua pihak Azerbaijan dan Armenia.


Di sisi lain, Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) telah mempublikasi video yang berisi ancaman kepada Azerbaijan (Menurut akun @AmRaadPSF). Di video ini, Iran memberi peringatan kepada Azerbaijan bahwa konflik militer melawan Armenia akan mengaitkan negara Iran, dan Iran akan membalas konflik ini dengan mengirim misil balistik interkontinental untuk menghancurkan kekuatan Azerbaijan.


Menariknya, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan juga mengadakan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden Turkiye, negara yang telah mendukung Azerbaijan selama ini. Ini bisa berarti pergantian dinamika geopolitik, dan bisa berarti bahwa sekutu-sekutu Azerbaijan ingin melihat perdamaian di wilayah Kaukasus. Tentu ini akan merugikan Azerbaijan dalam segi diplomatik jiga mereka memilih untuk melakukan penyerangan di Artsakh.


Jika ada konflik yang terjadi, ada kemungkinan besar bahwa Armenia lebih tidak ingin untuk memberi konsesi wilayah Republik Artsakh kepada Azerbaijan, apalagi karena wilayah Artsakh sudah menjalani kehilangan saat tahun 2020.


Tentu, harapan yang harus kita semua punya adalah ketegangan-ketegangan militer belakangan ini akan berakhir dengan kedamaian antara dua negara Armenia dan Azerbaijan.



Comments


Discover, Delve, Discuss

© 2023 by The Brawijaya Times.

bottom of page